Sepatu Hak Tinggi Anak Sd

Fatih.co.id

Sepatu Hak Tinggi Anak Sd

bantu saya dongg10. Analisislah resensi berikut ini berdasarkan unsur-unsur pembentuk resensi.Judul Buku: Mama Berhati EmasPengarang: Widya SuwarnaPenerbit: PT Penerbitan Sarana BoboKota tempat terbit: JakartaTebal: 7mm Buku kumpulan cerpen Bobo yang dibukukan memuat banyak kisah menarik di dalamnya. Terbagi dari beberapa seri kumpulan cerpen. Terdiri dari 13 cerpen pilihan yang banyak mengandung nilai-nilai norma dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Salah satu cerpennya yang berjudul . Ceritanya sederhana, tetapi hikmah yang diambil sangatlah berarti. Menceritakan tentang seseorang anak bersama Sinta yang memilili ibu dengan sifat dan penampilan yang berbeda dengan ibu teman-temannya yang selalu rapi, mengenakan sepatu hak tinggi, menggunakan lipstik, dan pergi ke salon. Sedangkan ibunya berambut sebahu yang suka mengenakan kemeja dan celana panjang, berpenampilan seperti laki-laki. Sinta sempat berpikir apa yang bisa ia banggakan dari ibunya itu yang setiap hari mengayuh sepedanya untuk bekerja di pasar. Namun, di balik semua itu barulah ia sadar bahwa ibunya memiliki hati seperti emas. Hati yang tidak dimiliki oleh ibu teman-temannya. Sebuah kebanggaan yang tidak dapat di miliki oleh setiap orang. Kebanggan tidaklah selalu memiliki sesuatu yang berharga, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dapat mudah dimiliki setiap orang. Disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami, terutama oleh anak-anak yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik sehingga penyampaian dari isi cerita tersebut dapat terserap dengan cepat oleh pembaca. Pembagian antara cerpen yang satu dengan cerpen yang lainnya tersusun dengan rapi sehingga mempermudah dalam membacanya dan mencari cerpen secara acak. Mengandung banyak amanat dan hikmah yang dapat kita ambil di dalamnya. Namun, problematika yang ditampilkan masih tergolong cukup sederhana, yang biasanya dialami oleh anak SD. Salah satu cerpennya ada yang menceritakan tentang kehidupan anak dari orang kaya, yang sekiranya dapat membuat iri anak-anak dengan kehidupannya yang sederhana. Seperti kita ketahui buku ini dapat dibaca oleh siapa pun. Identitas buju kurang lengkap, seperti tidak adanya tahun diterbitkannya buku tersebut sehingga sulit untuk dianalisis.​

Daftar Isi

1. bantu saya dongg10. Analisislah resensi berikut ini berdasarkan unsur-unsur pembentuk resensi.Judul Buku: Mama Berhati EmasPengarang: Widya SuwarnaPenerbit: PT Penerbitan Sarana BoboKota tempat terbit: JakartaTebal: 7mm Buku kumpulan cerpen Bobo yang dibukukan memuat banyak kisah menarik di dalamnya. Terbagi dari beberapa seri kumpulan cerpen. Terdiri dari 13 cerpen pilihan yang banyak mengandung nilai-nilai norma dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Salah satu cerpennya yang berjudul . Ceritanya sederhana, tetapi hikmah yang diambil sangatlah berarti. Menceritakan tentang seseorang anak bersama Sinta yang memilili ibu dengan sifat dan penampilan yang berbeda dengan ibu teman-temannya yang selalu rapi, mengenakan sepatu hak tinggi, menggunakan lipstik, dan pergi ke salon. Sedangkan ibunya berambut sebahu yang suka mengenakan kemeja dan celana panjang, berpenampilan seperti laki-laki. Sinta sempat berpikir apa yang bisa ia banggakan dari ibunya itu yang setiap hari mengayuh sepedanya untuk bekerja di pasar. Namun, di balik semua itu barulah ia sadar bahwa ibunya memiliki hati seperti emas. Hati yang tidak dimiliki oleh ibu teman-temannya. Sebuah kebanggaan yang tidak dapat di miliki oleh setiap orang. Kebanggan tidaklah selalu memiliki sesuatu yang berharga, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dapat mudah dimiliki setiap orang. Disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami, terutama oleh anak-anak yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik sehingga penyampaian dari isi cerita tersebut dapat terserap dengan cepat oleh pembaca. Pembagian antara cerpen yang satu dengan cerpen yang lainnya tersusun dengan rapi sehingga mempermudah dalam membacanya dan mencari cerpen secara acak. Mengandung banyak amanat dan hikmah yang dapat kita ambil di dalamnya. Namun, problematika yang ditampilkan masih tergolong cukup sederhana, yang biasanya dialami oleh anak SD. Salah satu cerpennya ada yang menceritakan tentang kehidupan anak dari orang kaya, yang sekiranya dapat membuat iri anak-anak dengan kehidupannya yang sederhana. Seperti kita ketahui buku ini dapat dibaca oleh siapa pun. Identitas buju kurang lengkap, seperti tidak adanya tahun diterbitkannya buku tersebut sehingga sulit untuk dianalisis.​

Jawaban:

kamu nanya dan bretanya

2. alik semuaJangan memasukkan terlalu banyak peraamar tidur. Demikian itu agar ketika sivar ingin tidur tidak terganggu dan saattubuh serta pikirannya segar kembali.Disadur dari: Iswanto, Pola Hidup Sehat dalam keluarga, jachat dalam keluarga, Jakarta,Sunda Kelapa Pustaka, 2007ke dalam kamar tidur. Demiempu kamar ingin tidur tidak terbangun tubuh serta pikirannyiliki oleh ibugaan yangKebanggaana berharga,4.Tentukan bagian-bagiaberikut!kan bagian-bagian buku dari kutipanbahasa yangKamukumpulanBuku pengdapat kampada jurnaPengarangPenerbitvaHargauntuk bekerja di pasar. Namun, di balik situ barulah ia sadar bahwa ibunya memilikiseperti emas. Hati yang tidak dimiliki oleteman-temannya. Sebuah kebanggaantidak dapat dimiliki oleh setiap orang. Kebangtidaklah selalu memiliki sesuatu yang berhatetapi memiliki sesuatu yang tidak dapat mudadimiliki setiap orang.bahasa yBuku ini disajikan dalammudah dipahami, terutama oleh anak-anak.dilengkapi dengan ilustrasi menarik. Oleh kareitu, penyampaian isi cerita tersebut dapat terseidengan cepat oleh pembaca. Pembagian ancerpen yang satu dengan cerpen yang lainnyatersusun dengan rapi sehingga mempermudahpembaca dalam membacanya dan mencaricerpen secara acak. Buku ini mengandungbanyak amanat dan hikmah yang dapat kitaambil di dalamnya. Namun, problematika yangditampilkan masih tergolong cukup sederhanadan biasanya dialami oleh anak SD. Salah satucerpennya ada yang menceritakan kehidupananak dari orang kaya yang sekiranya dapatmembuat iri anak-anak dengan kehidupannyayang sederhana. Seperti kita ketahui buku inidapat dibaca oleh siapa pun. Identitas bukukurang lengkap, seperti tidak adanya tahunditerbitkannya buku tersebut sehingga sulit untukdianalisis.Judul EPengaTerbitaJudul Buku : Mama Berhati Emas: Widya Suwarna: Penerbitan Sarana BoboKota tempat terbit : JakartaRp12.000,00Buku kumpulan cerpen Boboyang dibukukanmemuat banyak kisah menarik di dalamnya. Bukuini terbagi atas beberapa seri kumpulan cerpendan terdiri atas tiga belas cerpen pilihan yangbanyak mengandung nilai-nilai norma dalamkeluarga maupun dalam masyarakat. Salah satucerpennya berjudul Mama Berhati Emas. Ceritasederhana, tetapi hikmah yang dapat diambilsangatlah berarti.Cerpen ini menceritakan seorang anak ber-nama Sinta yang memiliki ibu dengan sifat danpenampilan yang berbeda dengan ibu teman-temannya, selalu rapi, mengenakan sepatu haktinggi, menggunakan lipstik, dan pergi ke salon.Sementara itu, ibunya berambut sebahu yangsuka mengenakan kemeja dan celana panjang,berpenampilan seperti laki-laki. Sinta sempatberpikir apa yang bisa ia banggakan dari ibunyaitu yang setiap hari mengayuh sepedanyaWaktuDisadur dari: http://anjasokul.heck.in/10-resensi-buku-non-fiksi-dan-fiksi.xhtml, diunduh 17 Mei 20165. Buatlah tigaadjektival!kalimat menggunakan frasa​

Jawaban:

1. berharga

2.mengjargai

3.di sayangi

3.  TIGA RIBU ENAM RATUS DETIK ANTARA RAWASARI DAN CILILITANJam sebelas. Saat paling naas. Narik dari Cililitan ke Rawasari pada jam segini paling malas. Paling banyak penumpang empat. Trayek paling banyak kendaraan.Uang setoran belum pas. Jalan terus, boros. Mau ngetem, rejeki siapa tahu?Pagi tadi, ketika jam sekolah dan jam kerja, mobil miring terus. Bolak-balik di trayek, penuh terus. Satu rit, dua rit, tiga rit, sampai pukul sembilanan penumpang masih lumayan banyak. Dari petak Tiga, Pisangan Lama, ada tiga anak SD naik. Mereka turun di Gronggongan, Rumah Sakit Persahabatan, 150 perak. Lumayan. Dari kebon Nanas naik ibu berambut brondlie, seperti biasa memakai sepatu hak tinggi. Turun di DKN, 200 perak, lumayan. Itu juga kalau tidak kegunting mobil lain.Pukul satu nanti, penumpang mulai ramai lagi. Dari Gading Raya bakalan naik anak SMP 44 yang baru bubaran sekolah. Makhluk-makhluk bising ini turun di Gronggongan, dekat saja. Mereka malas jalan, mungkin karena panas. Dari pasar Kampung Ambon, mbok-mbok penjual sayuran baru saja menggulung dagangan. Paling banyak sembilan orang yang bisa kuangkut, karena mereka membawa bakul-bakul besar. Tetapi imbalannya, mereka mau bayar lebih dibandingkan penumpang lain, 250 perak seorang. Lumayan.Sekarang baru pukul sebelas seperempat. Setoran masih kurang go ceng, belum dihitung makan siang.Empat puluh lima menit lagi pukul dua bela. Dari Cipinang Jaya bakalan naik seorang wanita ramah dan cantik. Sudah lima kali ini dia naik mobilku. Pertama kalinya tentu cuma kebetulan. Tetapi setelah aku tahu dia biasanya menunggu kendaraan pukul dua belas, aku mengatur perjalanan agar bisa sampai di sana tepat waktu. Aku betul-betul memaki kalau sampai ada kendaraan lain mendahuluiku ’menjemput’ nya.Ia mengatakan bahwa, dia adalah guru di SD Nol Tiga Pagi. Tinggalnya di Otista Dalam Tiga nomor tiga puluh tujuh. Namanya belum aku ketahui.Sudah pukul sebelas lima puluh. Sepuluh menit lagi. Dia cantik, ramah, guru lagi. Aku cuma sopir kendaraan umum. Oplet. Akan tetapi, siapa bisa melarangku, jika kukatakan aku senang padanya? Aku senang mendengar suaranya. Senyum tulusnya. Caranya berbicara. Kejelian matanya. Harum prafumya. Ah….Penumpang yang naik di Pasar Induk turun di Jagal. Mobilku kosong lagi. Set
orang kurang 4.850 perak lagi, pfuih! Belakangan ini Tuan Hin, toke-ku mulai belagu. Mentang-mentang banyak sopir baru yang mau setor lebih banyak, setoranku kurang sedikit saja dia marah-marah.Sudah pukul sebelas lima puluh lima. Mudah-mudahan tidak ada penumpang sampai ditempat dia menunggu. Aku mau tanya namanya. Nanti kalau dia marah? Masak ditanya nama saja marah? Harus kuperlihatkan bahwa maksudku baik. Dia pasti mengerti. Dia marah, tidak kelihatan judes sedikit pun. Kalau dia tinggi hati, masak dia mau ngobrol dengan supir oplet!Sebelas lima puluh delapan. Dua menit lagi, seratus meter dari tempat dia biasa menunggu, empat orang menyetop mobilku.”Pir, borongan ke Bekasi.””Berapa orang?”” Enam.””Ada barang?””Cuma tiga tas ini.””Berani berapa?””Sepuluh ribu.”Sepuluh ribu? Wah, ini berarti ada sisa uang setoran go ceng pek go. Lumayan.

Pertanyaan nya apa?
….

4. TIGA RIBU ENAM RATUS DETIK ANTARA RAWASARI DAN CILILITAN Jam sebelas. Saat paling naas. Narik dari Cililitan ke Rawasari pada jam segini paling malas. Paling banyak penumpang empat. Trayek paling banyak kendaraan. Uang setoran belum pas. Jalan terus, boros. Mau ngetem, rejeki siapa tahu? Pagi tadi, ketika jam sekolah dan jam kerja, mobil miring terus. Bolak-balik di trayek, penuh terus. Satu rit, dua rit, tiga rit, sampai pukul sembilanan penumpang masih lumayan banyak. Dari petak Tiga, Pisangan Lama, ada tiga anak SD naik. Mereka turun di Gronggongan, Rumah Sakit Persahabatan, 150 perak. Lumayan. Dari kebon Nanas naik ibu berambut brondlie, seperti biasa memakai sepatu hak tinggi. Turun di DKN, 200 perak, lumayan. Itu juga kalau tidak kegunting mobil lain. Pukul satu nanti, penumpang mulai ramai lagi. Dari Gading Raya bakalan naik anak SMP 44 yang baru bubaran sekolah. Makhluk-makhluk bising ini turun di Gronggongan, dekat saja. Mereka malas jalan, mungkin karena panas. Dari pasar Kampung Ambon, mbok-mbok penjual sayuran baru saja menggulung dagangan. Paling banyak sembilan orang yang bisa kuangkut, karena mereka membawa bakul-bakul besar. Tetapi imbalannya, mereka mau bayar lebih dibandingkan penumpang lain, 250 perak seorang. Lumayan. Sekarang baru pukul sebelas seperempat. Setoran masih kurang go ceng, belum dihitung makan siang. Empat puluh lima menit lagi pukul dua bela. Dari Cipinang Jaya bakalan naik seorang wanita ramah dan cantik. Sudah lima kali ini dia naik mobilku. Pertama kalinya tentu cuma kebetulan. Tetapi setelah aku tahu dia biasanya menunggu kendaraan pukul dua belas, aku mengatur perjalanan agar bisa sampai di sana tepat waktu. Aku betul-betul memaki kalau sampai ada kendaraan lain mendahuluiku ’menjemput’ nya. Ia mengatakan bahwa, dia adalah guru di SD Nol Tiga Pagi. Tinggalnya di Otista Dalam Tiga nomor tiga puluh tujuh. Namanya belum aku ketahui. Sudah pukul sebelas lima puluh. Sepuluh menit lagi. Dia cantik, ramah, guru lagi. Aku cuma sopir kendaraan umum. Oplet. Akan tetapi, siapa bisa melarangku, jika kukatakan aku senang padanya? Aku senang mendengar suaranya. Senyum tulusnya. Caranya berbicara. Kejelian matanya. Harum prafumya. Ah…. Penumpang yang naik di Pasar Induk turun di Jagal. Mobilku kosong lagi. Setorang kurang 4.850 perak lagi, pfuih! Belakangan ini Tuan Hin, toke-ku mulai belagu. Mentang-mentang banyak sopir baru yang mau setor lebih banyak, setoranku kurang sedikit saja dia marah-marah. Sudah pukul sebelas lima puluh lima. Mudah-mudahan tidak ada penumpang sampai ditempat dia menunggu. Aku mau tanya namanya. Nanti kalau dia marah? Masak ditanya nama saja marah? Harus kuperlihatkan bahwa maksudku baik. Dia pasti mengerti. Dia marah, tidak kelihatan judes sedikit pun. Kalau dia tinggi hati, masak dia mau ngobrol dengan supir oplet! Sebelas lima puluh delapan. Dua menit lagi, seratus meter dari tempat dia biasa menunggu, empat orang menyetop mobilku. ”Pir, borongan ke Bekasi.” ”Berapa orang?” ” Enam.” ”Ada barang?” ”Cuma tiga tas ini.” ”Berani berapa?” ”Sepuluh ribu.” Sepuluh ribu? Wah, ini berarti ada sisa uang setoran go ceng pek go. Lumayan.

Tema = sopir pencari nafkah
Latar setting = angkutan umum (oplet)
Latar waktu = banyak jam2 nya, tinggal dtlis
Tokoh = Aku
Watak = pekerja keras
Amanat = janganlah mudah putus asa saat mencari nafkah krn siapa tahu tuhan melimpahkan rezeki tg tak terduga kpd kita

Video Terkait

Bagikan: